|
July 17, 2008
Filed Under (Aktual) by omdidik
Putri Raemaswati, arek ITS asal Blitar yang terpilih sebagai Puteri Indonesia dan mewakili Indonesia dalam ajang Miss Universe di Vietnam, tiba kembali di Indonesia semalam. Belum hilang rasa lelah selama mengikuti rangkaian acara pemilihan puteri sejagad, Putri sudah ditunggu dengan kontroversi yang merebak di masyarakat akibat keberaniannya menggunakan baju renang model one piece pada sesi penilaian menggunakan swimsuit (video resmi-nya bisa lihat disini) Sebenarnya kontroversi semacam ini sudah menjadi tradisi setiap pemilihan Miss Universe digelar--dengan wakil Indonesia sebagai salah satu pesertanya--dan argumen yang dikemukakan baik oleh yang pro ataupun yang kontra, masih argumentasi yang sama. Di satu sisi alasan norma agama dan budaya yang disampaikan, di sisi lain alasaan konsekuensi logis sebagai peserta yang dikemukakan.
Saya tidak mau terjebak dalam ritual kontroversi ini, hanya sebagai pribadi saya berpendapat jika memang sebagian besar rakyat Indonesia tidak menghendaki ada wakilnya memperlihatkan lekuk tubuh di depan manusia sejagad (nggak peduli pakai one piece atau two piece!), maka sebaiknya diputuskan tahun depan Indonesia tidak mengirimkan utusan ke pemilihan Miss Universe bahkan ekstrimnya tidak perlu lagi dilanjutkan tradisi pemilihan Puteri Indonesia...maka dijamin tahun 2009 tidak akan muncul kontroversi yang sama. Akan tetapi, jka ternyata menurut sebagian besar masyarakat, mengirimkan utusan ke Miss Universe itu bermanfaat (manfaatnya kan bisa dicari-cariin..hehehhe), maka tak perlu ada yang mengomentari penampilan Puteri Indonesia dengan bikini di ajang Miss Universe, karena pada dasarnya sesi penilaian swimsuit merupakan unsur wajib selain sesi gaun malam dan baju nasional (katanya begitu sih!), karena--lagi-lagi katanya--faktor penilaian ajang miss-miss-an begitu didasarkan pada 3B (Brain, Beauty, Behaviour). Brain-nya bagus bila bisa secara spontan menjawab pertanyaan/komentar juri (spontan juga berarti benar loh, jadi kalo menyebut Indonesia is my beautiful city ya gimana yaaaa...). Behaviour berarti tingkah laku para kontestan selama masa karantina. Nah, unsur BRAIN itu lebih besar faktor keberuntungannya...asal mendapat pertanyaan yang bisa dijawab dengan pas, maka dia akan kelihatan smart! BEHAVIOUR? bisalah menahan diri untuk kelihatan supel, ramah, peduli dan baik hati selama sebulan karantina. Maka jadilah faktor BEAUTY yang menjadi penentu, dan itu jelas bukan hanya didasarkan pada model baju yang dikenakan tapi lebih pada WAJAH dan TUBUH...so bagaimana bisa menilai lekuk tubuh si kontestan kalo tidak ber-bikini??? Parahnya, menilai kecantikan seseorang itu kan sangat subjektif. Kontestan asal Afrika bagi sebagian orang tidak cantik, bagi sebagian lainnya eksotis. Kontestan asal Amerika Latin & India, mau dinilai pakai teleskop pun tetap cantik... Jadi? Ya, nurut selera Donald Trump aja...karenanya sangat sulit wakil Indonesia masuk kategori 3 besar sekalipun. Kecuali suatu saat kita kirim puteri Indonesia naturalisasi dari Brazil, India atau Meksiko hahahahaaa.... Cuma masalahnya, bagaimana menentukan jumlah pendapat 'sebagian besar masyarakat' itu tadi? Referendum? Polling? SMS terbanyak? aaahh ribet, pemilu aja banyak yang golput...jadi mendingan kita tetap ber-kontroversi aja deh, supaya koran & majalah tambah laris, rating debat di TV naik, para koruptor sedikit lega karena nggaklagi menjadi pusat perhatian...SAYA? mending nikmatin foto Putri...dengan rambut ikal sebahu dan badan dilulur lotion mengkilat, Putri Raemaswati memang cantik! :) foto-foto dari DetikHot & Globalbeauties ![]()
July 15, 2008
Filed Under (Opini) by omdidik
Sebelumnya, saya tidak tertarik untuk buat account di Friendster, Facebook, Twitter atau jaringan pertemanan sosial semacamnya, hingga suatu pagi membaca tulisan Hermawan Kartajaya di Jawa Pos yang mengulas tentang Facebook. Singkat cerita, saya pun membuka account Sulaiman Effendi dan mulai mencari jejaring teman, dari yang sudah kenal secara fisik, pernah tahu namanya, hingga yang hanya karena fotonya menarik :)
Saat posting ini dibuat sudah tercatat 100 lebih teman dari beragam latar belakang dan ini yang semakin membuat ketagihan, karena ternyata ada teman yang sudah mencapai ribuan jaringan...
Dan yang semakin membuat saya terpesona adalah saling keterbukaan antara kami sehingga data--yang paling pribadi pun--di-publish, dan ini yang menarik beberapa politisi mulai menggunakan medium ini untuk menyampaikan ide/gagasan politik mereka atau justeru memperkenalkan produk/perusahaan tempat dia bekerja...secara sederhana kira-kira hal ini yang disebut new wave marketing (lebih detailnya bisa tanya Pak Hermawan deh..)
Bagaimana menurut anda? (halah ketularan..)
![]()
May 21, 2008
Jujur, dari satu sisi--terutama dari sisi persiapan, penyelenggaraan dan susunan acara yang rapih (kan, saya melihatnya dari sisi sesama organizer hehehe.. )--acara tersebut membuat saya bangga. Namun dari sisi lain, banyak hal yang patut dipertanyakan. Berapa besar biaya yang dikeluarkan? Berapa rupiah nilai APBN yang digunakan--dibandingkan berapa rupiah yang hendak dihemat dengan menaikkan harga BBM?? Apa yang hendak dicapai dengan acara tersebut?
foto by: alif ichwan & agus susanto (www.kompasimages.com)
Yang saya tangkap, inti pergelaran spektakuler tersebut adalah pembacaan deklarasi Indonesia Bisa! oleh Presiden Yudhoyono, ajakan bagi masyarakat Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan dengan memanfaatkan momentum peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional.
Dibalik semua itu, tercium pula aroma politis berupa unjuk kekuatan menjelang pilpres 2009. Hal ini terlihat dari orang-orang penting dibalik perhelatan, lagu tema yang diciptakan khusus oleh SBY dan last but noy least tema Indonesia Bisa!, mengingatkan kita ke sebuah jargon capres di 2004 lalu: Bersama Kita Bisa! semoga, penciuman saya salah!! ![]()
March 18, 2008
Filed Under (Bincang Iklan) by omdidik
Acapkali kita begitu terpesona menyaksikan iklan TV yang yang menggugah emosi atau iklan cetak di koran dan majalah yang begitu bagus secara visual, tanpa kita sadari betapa sulitnya mengejawantahkan iklan tersebut dari sebuah ide. Bagi pekerja iklan, yang namanya IDE akan menjadi faktor penting dalam sebuah eksekusi iklan. Iklan yang baik, bagus dan menjual pastilah berasal dari ide yang hebat--walaupun kadang sederhana--. Dan itu bukan hal yang mudah! Tidak cukup dengan hanya brainstorming, FGD ataupun mencari insight...terkadang yang lebih diperlukan adalah faktor kebetulan. Ya, KEBETULAN! Ide kadang muncul disaat yang terduga, di tempat yang tak terduga pula. Bahkan tidak jarang, sebuah ide muncul disaat kita melakukan 'ritual pagi' di toilet! Mari kita coba menganalisa, kira-kira ide apa dibalik iklan berikut...
atau yang berikut....
atau yang ini...
susah kan? Makanya, mencari ide itu (tidak) gampang!
source: www.funnyplace.org
![]()
March 18, 2008
Filed Under (Opini) by omdidik
Mengelola sebuah tim yang mengandalkan kerjasama antar personal didalamnya tentu bukan suatu hal yang mudah. Semakin banyak anggota tim, semakin kompleks pula persoalan yang melingkupi dan tentu saja semakin besar energi yang dibutuhkan untuk meng-kolaborasikan kinerja personal menjadi sebuah teamwork yang baik. Saya mengalaminya. Mengelola tim--walaupun tidak cukup besar--tetapi cukup kompleks karena latar belakang anggota tim yang rentang perbedaannya cukup besar antara satu dengan lainnya. Diluar masalah pribadi (keluarga, anak, istri, pacar, selingkuhan ataupun keuangan), permasalahan performance saja sudah cukup memeras otak. Satu orang sangat profesional terhadap job description-nya, orang yang lain biasa saja dan cenderung apatis, orang yang lain menunggu dipecuti untuk bekerja. Seringkali saya menggunakan analogi keringat untuk menggugah performance mereka bila dirasa mulai kendor. Kira-kira begini, dalam sebuah tim olah raga (biasanya sepak bola) harusnya keringat yang dikeluarjan setiap anggota tim sama banyaknya...tidak peduli dia berada di posisi mana. Bagi anggota tim yang berusaha lebih keras, dianalogikan berkeringat lebih banyak..lebih deras. Anggota tim lainnya, berkeringat biasa saja karena dia santai hanya kesana-kemari tanpa peduli arah bola kemana. Lainnya hanya pasif menunggu datangnya bola dan dia belum berkeringat sama sekali. Yang lebih parah lagi, ada anggota tim yang masih santai-santai di pinggir lapangan sementara teman lainnya sudah mencetak gol dan bahkan kemasukan gol...tanpa dia sadari! Harusnya, mereka bisa memposisikan diri sesuai analogi tersebut. Sudah berkeringat banyak, baru berkeringat atau masih 'di pinggir lapangan'...dengan harapan tentu saja selanjutnya bisa introspeksi diri dan berusaha 'berkeringat'. Berhasilkah analogi tersebut mengubah kinerja menjadi lebih baik? (saya sendiri masih menunggu mereka berubah, tuh!) ![]() ![]() |
|